Minggu, 22 November 2020

Arti Kebaikan

 Assalamu 'Alaikum Warahmatullah, 

Jumpa lagi dengan teman-teman pembaca yang budiman, 😊

jangan lelah berbuat kebaikan ya....

sekecil apapun , dan dimanapun kita berada,

Setiap hari dari kehidupan ini senantiasa kata 'kebaikan' menjadi kata yang selalu didengar, bahkan diucapkan oleh sekalian mahluk yang bernama manusia. Sedemikian lazimnya, kata 'kebaikan' ini sudah menjadi tolok ukur untuk memberi nilai atau label seseorang itu baik atau tidak karena 'kebaikan' itu. 

Nah, saya tertarik menuliskan sedikit apa sih itu kebaikan? dari sisi mana sesuatu itu dinilai baik atau dapat dinilai sebagai kebaikan? Yuk, kita simak bersama..(ga usah pake serius githo,hehe😊)

Agar kita mengetahui apa itu kebaikan teman sekalian, ada baiknya mari kita pahami dulu pengertian 'kebaikan' itu dari sisi etimologinya.

 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Kebaikan berasal dari kata 'baik' yang berarti elok; patut; teratur (apik, rapi, tidak ada celanya, dan sebagainya). Dari kata 'baik' tersebut setelah memperoleh imbuhan ke-baik-an, maka dapat diartikan sebagai :

"sifat baik; perbuatan baik" atau "sifat manusia yang dianggap baik menurut sistem norma dan pandangan umum yang berlaku"

Sudah jelas kan apa yang dimaksud kebaikan itu...

Jadi segala perilaku yang berupa perkataan dan atau tingkah laku yang melekat pada sifat manusia dan hal itu dianggap baik secara kesepakatan umum di masyarakat, maka dianggap sebagai kebaikan.

 Ternyata cukup sederhana ya, untuk memperoleh label 'baik' itu, namun pada gilirannya tidak semudah yang didapati di kehidupan kita. Betul apa betul? 😁. ..

Setiap hari pada perputaran kehidupan anak manusia, sebenarnya tidak lepas dari 2 (dua) sifat, yaitu bertutur kata dan berperilaku. 

Tutur kata adalah sifat yang melekat pada lisan seseorang. Nilai seorang itu memiliki kebaikan atau tidak, berawal dari tata cara berbicara atau berkomunikasi terhadap sesamanya. Tentu hal ini sudah menjadi kesepakatan normatif di kalangan manusia, iya kan?

Coba deh, ketika Anda berkata yang sopan dan lembut, maka orang yang berada dihadapan kita akan memberikan respek secara langsung, ya...paling tidak sesimpul senyum manis dari sudut bibirnya, cieee.....hehe

Sebaliknya, ketika Anda kurang mampu menjaga kata yang terucap dari lisan, maka hal sebaliknya akan ditemui kan? paling tidak ditinggal pergi deh...(ga percaya, cobain dehπŸ˜€). 

Jadi tutur kata yang baik dan sopan merupakan satu bentuk kebaikan diantara beragam kebaikan lainnya. Semakin jelas kan temanku semua,,,

Sekarang, setelah kita mengetahui kebaikan dari bentuknya berupa sifat manusia yang melekat pada tutur katanya, tentu batasannya tidak cukup hanya di perkataan. Perlu padanan berupa perbuatan. Kenapa? ya, karena inti kebaikan itu sebenarnya ada pada perbuatan manusianya, atau yang biasa disebut dengan istilah akhlak manusia.

Minggu, 08 November 2020

Ridho Allah Melalui Ikhlas


Bismillah,

Apa kabar harimu? Semoga senantiasa dalam Ridho Allah ya.....Aamiin,πŸ˜ŠπŸ™πŸ™πŸ™

Cukup lama kita tidak saling bersua melalui coretan ini, hee...maaf ya karena kesibukan dan kerundungan hidup sehingga tak sempat menyapa melalui media ini....,

Kesempatan ini akan coba nulis soal Ikhlas....kok penting ya? so pasti lah, karena perkara ikhlas itu adalah perkara terberat (timbangan kali ya...😊) dalam kehidupan. Lebih detil lagi 'Ikhlas' itu merupakan wujud yang tak terlihat namun dapat dirasakan... Nah, karena pentingnya hal ini, maka kali ini coba kita bahas secara singkat apa sih yang dimaksud dengan Ikhlas, dan apa kaitannya Ridho Allah dengan perkara yang satu ini.

Apa itu Ikhlas?

Diantara pengertian ikhlas adalah sebagai berikut :

  • Abul Qasim mengatakan, "Ikhlas adalah membersihkan amalan dari komentar manusia."
  • Hudzaifah Al-Mar'asiy mengatakan, "Ikhlas adalah kesamaan perbuatan seorang hamba antara zahir (lahiriyah) dan bagin".
  • Dzun Nuun menyebutkan 3 (tiga) tanda Ikhlas, yaitu :
    1. Tetap merasa sama antara pujian dan celaan orang lain
    2. Melupakan amalan kebajikan yang dulu pernah diperbuat
    3. Mengharap balasan dari amalan di akhirat (dan bukan di dunia)            
  • Fudhail Bin 'Iyadh mengatakan, Ikhlas adalah meninggalkan amalan karena manusia adalah Riya'. Beramal karena manusia termasuk kesyirikan. Ikhlas adalah engkau terselamatkan dari dua hal tadi"
Dari definisi tentang iklhas di atas, yang menarik adalah definisi yang dikemukakan oleh Fudhail Bin 'Iyadh. Pernyataan, "meninggalkan amalan karena manusia itu riya", maka ini tidak secara mutlak. Terdapat perincian dalam hal itu dan intinya tergantung pada niat. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah ο·Ί:
"Setiap amalan tergantung pada niat. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan". 
 
Jadi niat yang menjadi patokan, ditambah amalan tersebut harus bersesuaian dengan tuntunan Nabi  ο·Ί

dan berlaku pada seluruh amal.

nah,sebagai tambahan ya...jika seseorang meninggalkan amalan yang tidak wajib (sunnah)karena menyangka bahwa hal itu dapat membahayakan dirinya, maka tidak termasuk riya'.

Adapun amalan wajib tidak boleh ditinggalkan karena takut dipuji manusia kecuali jika ada uzur (alasan) syar'i.